Selasa, 28 Juni 2011

Renungan Seperempat Malam

               Satu hal yang perlu kita cemaskan dalam kehidupan ini. 
Mampukah orang Islam menerapkan ajaran Islam dalam kehidupannya sehari-hari. 
setidaknya dimulai dari hal yang kecil. 
Yaitu masalah Thoharah=kebersihan, kebersihan
lahir maupun bathin. sudah banyak kitab-kitab 
yang membahas tentang thoharah. baik buku yang diterbitkan oleh para ulama timur tengah maupun para ulama produk dalam negeri. 
Tapi hanya sebahagian kecil manusia makhluk Allah yang mampu menerapkan ajarannya itu. Padahal Allah  telah menciptakan manusia
itu dengan sebaik-baiknya bentuk, pengertian bentuk di sini bukan hanya bentuk=rupa yang dipandang secara kasat mata. 
Tapi, bentuk bathiniyah juga. Apa susahnya menerapkan ajaran Allah di muka bumi ini ? ibaratkan sebuah flash disk yang dipasang 
di Laptop atau CPU tinggal kita send too atau mengcopypaste, masuklah data yang kita maksud. Begitu juga dengan ajaran, aturan Allah SWT yang telah ada
di hadapan kita, tinggal kita baca dan memasukan dalam hati suci, maka akan tercipta keadaan yang kondusif dan harmoni.
              Jangan pernah menganggap, bahwa aturan Allah itu membatasi ruang gerak kita atau merugikan kehidupan kita. Orang yang seperti ini 
selalu mengedepankan hawa nafsu syaithon, dan memburu kehidupan dunia dengan segala cara. Apakah dunia yang kita tempati ini selamanya kita tempati ?. Tidak, sama sekali tidak. Ingat firman Allah yang bunyinya :    " Wayabqoo dzul jalaali wal ikroom " = dzat Yang Maha Kuasa (Allah) lah yang kekal dan mulia. dan dalam surat/ayat  lain Allah berfirman : " Walal Aakhiratu khairullaka minal uula " = Dan kehidupan akhirat itu lebih baik ketimbang kehidupan dunia. Kehidupan dunia hanya bisa kita nikmati
di dunia saja, itu sudah pasti. tapi tidak sampai kita bawa serta di kehidupan selanjutnya (akhirat). Kecuali kenikmatan dunia itu
betul-betul mengarah dan seiring dengan aturan Allah.
Kerut keningnya Allah melihat kebobrokan akhlaq umat manusia, yang semakin jauh dengan ketakutannya dengan Allah.
Allah murka, marah, gerah. Dia menampakan murka, marah dan gerahnya dengan menurunkan bala dan bencana yang bertubi-tubi kepada kita. Sebenarnya Dia ingin menghancurkan, membinasakan dunia ini. Tapi Allah mempertimbangkannya. Karena Allah melihat dengan kekuasaan tajamnya masih ada di antara hambanya yang menggerakan kedua belah bibirnya berdzikir dengan tahmid, takbir, istighfar dan tahlil.
Jika ada di antara hambanya yang masih 
berdzikir dan mengakui keesaanNya, maka Allah tidak akan membinasakan dunia ini. Tapi jangan kita mengharap terlalu banyak kepada orang yang berdzikir itu. karena semua amalan yang kita perbuat untuk kita, bukan untuk orang lain.
Bagi kami amalan kami, bagimu amalanmu.
 Akankah pahala dzikir bisa kita bagikan untuk orang lain ?. Ini pertanyaan konyol, konyol sekali. sama halnya kita membagikan organ tubuh kita yang sangat vital kepada orang lain. Semua itu akan merugikan bahkan membuat kita mati.
Wahai manusia...Kembalilah ke jalan yang benar
Luruskan pikiranmu
Carilah bekal yang baik di duniamu untuk akhiratmu
tinggalkan segala kebohongan, kecurangan hidup.
Bisakah kau memikirkan kekuasaan Allah yang tak bisa
ditandingi oleh beribu-ribu kekuasaan manusia di dunia. Bagaimana Allah membolak-balik dunia, gunung-gunung bertebaran laksana kapas
yang ditiup angin, langit-langit biru saling
reruntuhan, air laut yang terbentang luas bergelombang dahsyat 
menaiki daratan tempat tinggal manusia/Tsunami dunia,
manusia-manusia berterbangan sambil mencari
tempat berteduh untuk menyelamatkan diri.
Oh... ternyata sudah tidak ada jalan lagi.
QIYAAAAMAAAAH......., 
DUNIA SEBENTAR LAGI QIYAMAH



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar